Tuesday, 14 February 2017

Kekayaan dan Kemiskinan

Kekayaan dan kemiskinan, ibarat perbandingan antara cantik dan buruk rupa. Kekayaan akan tervisualisasikan secara cantik, sebaliknya kemiskinan akan tervisualisasikan secara buruk rupa. Jika ditinjau dari aspek finansial, maka kekayaan tentu saja dapat didefinisikan sebagai kehidupan yang bergelimang harta, tak kekurangan sedikit apapun. Dengan harta yang bergelimang, seseorang bebas untuk tidak bekerja tanpa harus mengkhawatirkan masa depannya. Dengan tak merasa kekurangan, kebutuhan tersier akan tergeser menempati posisi kebutuhan primer. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, cukup bersenang-senang menikmati indahnya surga dunia. Sementara kemiskinan merupakan kehidupan yang serba kekurangan dan penuh penderitaan. Kemiskinan diwarnai dengan kelaparan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan primer.
Jika ditinjau dari segi kesehatan akal dan hati, maka definisi dan makna dari kemiskinan dan kekayaan di atas jauh berbeda. Kekayaan sejati adalah kebijakan hati akan kenikmatan hidup yang diperoleh. Kebijakan hati akan ditandai dengan ikhlasnya seseorang dalam menerima ujian dari Sang Khaliq, entah ia hidup dalam tak kekurangan satu apapun atau ia hidup dengan penuh perjuangan untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara kenikmatan hidup adalah ketenangan batin atas suatu peristiwa atau persoalan kehidupan yang dilaluinya. Hal ini akan terefleksikan melalui rasa syukur. Orang yang terkategori dalam kekayan sejati akan diwarnai dengan senyum keikhlasan dan rendah hati. Orang yang memiliki kekayaan ini, akan lebih tenang dalam menghadapi persoalan kehidupan karena mereka memiliki akal dan hati yang sehat, jauh dari rasa iri dan mengeluh. Sehingga, persoalan kehidupan adalah hal yang mudah untuk mereka lalui dengan penuh kesabaran.

Sementara kemiskinan merupakan kekosongan hati yang tak bermakna. Kemiskinan merupakan hati yang kusam, ibarat mawar yang telah layu. Kemiskinan akan ditandai dengan rasa iri bahkan dengki atas ketidakcukupan rezeki. Kemiskinan diwarnai dengan ketidaksenangan atas kelebihan yang diperoleh orang lain bahkan seseorang yang menderita kemiskinan yang parah, akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kesenangan duniawi. Sering mengeluh dan tak ada rasa syukur serta tak pernah puas terhadap apa yang ia dapatkan ialah penyakit hati yang membuat penderitanya tak pernah lepas dari kemiskinan.

No comments: