Keindahan dan
keburukan, ibarat perbandingan antara cantik dan buruk rupa. Keindahan akan
tervisualisasikan secara anggun, sebaliknya keburukan akan tervisualisasikan
secara buruk rupa. Tak ada keindahan tanpa keburukan, dan tak ada keburukan
tanpa keindahan. Keduanya saling melengkapi laksana putih dan hitam, terang dan
gelap. Keduanya merupakan satu kesatuan yang dapat diperumpamakan sebagai
kausalitas, sebab akibat. Melalui keburukan, kita dapat melihat keindahan,
begitupun sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh keindahan itu sendiri merupakan
persepsi dari perbandingan keadaan yang dilandasi pemikiran terhadap
pengetahuan tentang apa yang disebut dengan keburukan. Sehingga, baik keindahan
maupun keburukan merupakan pandangan terhadap penilaian atas suatu objek yang
dilihat oleh panca indera yang kemudian diinterpretasikan oleh akal pikiran
hingga melahirkan suatu opini.
Jika ditinjau dari perspektif
etika, penginterpetasian suatu objek hingga melahirkan opini keindahan dan
keburukan akan melibatkan rasionalisasi nilai dan norma kehidupan. Perilaku
yang tercermin dari tindakan seorang insan melambangkan representatif keindahan
dan keburukan. Keindahan dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dinilai
baik, sementara keburukan diartikan sebagai suatu keadaan yang dinilai buruk
atau tidak pantas sesuai dengan nilai dan norma kehidupan. Tentunya, perilaku
yang mengandung unsur indah dapat diterima secara umum, sebaliknya perilaku
yang buruk tidak dapat diterima oleh nurani.
No comments:
Post a Comment