Sunday, 12 February 2017

Pengkhianatan dan Kesetiaan Dalam Bingkai Ormawa

Mahasiswa, dapat dikatakan bahwa ia adalah salah satu profesi yang dapat mendewasakan seorang remaja. Mahasiswa adalah sebuah profesi yang dapat membentuk paradigma berpikir kita. Mahasiswa adalah salah satu profesi yang dapat menyadarkan kita tentang betapa kerasnya kehidupan seorang terpelajar yang kemudian mengabaikan nuraninya ketimbang logika (pada umumnya). Ya, begitulah kehidupan seorang mahasiswa jika ia terjun dan bergelut untuk menjadi seorang aktivis, entah sebagai aktivis kampus atau aktivis di luar kampus.
Apapun organisasi yang digeluti dan beragamnya bendera organisasi yang menjadi jati diri anda, maka ia tak akan pernah lepas dari kata arogansi. Arogansi organisasi ibarat partai politik yang mengobarkan semangat juang untuk rakyat, namun pada kenyataannya meraka hanya memperjuangkan aspirasi kelompok atau partainya. Walau meraka telah disatukan dalam sebuah koalisi, bukanlah mustahil terdapat kubu-kubu yang menggoyahkan lambang suci demokrasi. Bahkan ironisnya, mereka lahir dari gelar yang disanjung dan status yang pernah mereka emban sebagai agent of change namun dengan mudahnya mereka khianati. Mereka yang dulunya berteriak di terik matahari, tak kenal lelah menuntut perubahan untuk Indonesia, namun ketika mereka menanggalkan jubah agent of change, jati diri mereka hilang bagaikan ditelan bumi.
Kembali ke arogansi organisasi. Organisasi apapun khususnya dalam lingkungan kampus, tak luput dari proses politik. Sebagai contoh, pada tingkat bawah birokrasi organisasi mahasiswa, terdapat organisasi yang disebut dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), lalu di atasnya ada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas atau biasa dikenal dengan Senat Fakultas, dan terakhir Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas. Seorang mahasiswa yang memilih untuk menjadi aktivis kampus, perjalanan mereka diawali dari lingkup HMPS. Mereka dibekali doktrin-doktrin yang mensanubari dari para tetua mereka. Ini adalah organisasi pertama yang umumnya digeluti oleh mereka, maka secara tidak langsung telah tertanam suatu paradigma, pandangan, bahwa kepentingan HMPS adalah pertama dari kepentingan lainnya.
Tak bisa dihindari antara satu HMPS dengan HMPS lain terdapat keangkuhan atau arogansi prodi yang berlebihan sehingga timbul suatu anggapan bahwa prodi merekalah yang terbaik. Hal ini tentunya membuat mereka hidup dalam sekat-sekat walau mereka berada dalam satu jurusan. Konflik yang lahir dari arogansi prodi menciptakan insan-insan cerdas, baik dari segi intelektual yang tervisualisasikan melalui retorika, hingga pada kemampuan untuk bermuka dua. Bahkan, hanya untuk kepentingan prodi, tak jarang dalam tingkat HMJ maupun BEM Fakultas ditemukan pengkhianatan, khususnya pada saat pemilihan Ketua HMJ atau ketua BEM. Pengkhianatan yang lahir dari rasa kesetiaan pada jati diri organisasi asal mereka.
Pengkhianatan dan kesetiaan dalam politik merupakan perkara yang tak dapat dihindari dan dipilih begitu saja. Ketika mengatakan akan setia pada organisasi ini, maka mungkin akan ada pengkhiatan terhadap organisasi tersebut. Hal ini disebabkan oleh benturan kepentingan antara anggota organisasi. Dalam politik, termasuk di lingkungan ormawa, tak ada kesetiaan sejati. Bahkan dalam HMPS saja, terdapat konflik yang berujung pada pengkhianatan prodi sendiri. Namun, tak perlu dikhawatirkan, karena kesetiaan pada prodi akan terbentuk sendirinya. Sejauh anda berjalan di jalan yang salah, anda tak dapat mengubur jati diri anda sebagai bagian dari organisasi karena anda lahir dari rahim prodi anda sendiri. Dalam darah anda, terdapat darah prodi. Itulah hukum ormawa yang berlaku dan tak dapat disangkal oleh siapapun.
Itulah letak kesetiaan pada organisasi di tingkat prodi. Ia bagaikan kesetiaan pada fakultas di tingkat universitas. Walau terkadang mengatakan akan mendahulukan kepentingan organisasi, misalnya kepentingan BEM universitas, namun tak dapat disangkal bahwa percikan-percikan atau warna-warna fakultas selalu mendominasi sikap dan tindakan mereka di BEM universitas. Layaknya kesetiaan pada HMPS dan pengkhiatan pada HMJ atau BEM Fakultas. Itulah siklus ormawa yang tak bisa dihindari. Ia akan punah, apabila doktrin-doktrin dari para tetua mereka dibumihanguskan. Namun, inilah letak keindahan permaianan politik di tingkatan ormawa. Hari ini adalah teman, namun besok ia bisa menjadi musuh anda. Hari ini mereka adalah musuh anda, namun besok ia bisa menjadi teman anda. Inilah siklus kehidupan ormawa. Karena untuk ormawa, pengkhianatan adalah bentuk kesetiaan.  

No comments: