Kekayaan dan kemiskinan,
ibarat perbandingan antara cantik dan buruk rupa. Kekayaan akan
tervisualisasikan secara cantik, sebaliknya kemiskinan akan tervisualisasikan
secara buruk rupa. Jika ditinjau dari aspek finansial, maka kekayaan tentu saja
dapat didefinisikan sebagai kehidupan yang bergelimang harta, tak kekurangan
sedikit apapun. Dengan harta yang bergelimang, seseorang bebas untuk tidak
bekerja tanpa harus mengkhawatirkan masa depannya. Dengan tak merasa
kekurangan, kebutuhan tersier akan tergeser menempati posisi kebutuhan primer.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan, cukup bersenang-senang menikmati indahnya surga
dunia. Sementara kemiskinan merupakan kehidupan yang serba kekurangan dan penuh
penderitaan. Kemiskinan diwarnai dengan kelaparan dan kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan primer.
Jika ditinjau dari segi
kesehatan akal dan hati, maka definisi dan makna dari kemiskinan dan kekayaan
di atas jauh berbeda. Kekayaan sejati adalah kebijakan hati akan kenikmatan
hidup yang diperoleh. Kebijakan hati akan ditandai dengan ikhlasnya seseorang
dalam menerima ujian dari Sang Khaliq, entah ia hidup dalam tak kekurangan satu
apapun atau ia hidup dengan penuh perjuangan untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara
kenikmatan hidup adalah ketenangan batin atas suatu peristiwa atau persoalan
kehidupan yang dilaluinya. Hal ini akan terefleksikan melalui rasa syukur. Orang
yang terkategori dalam kekayan sejati akan diwarnai dengan senyum keikhlasan
dan rendah hati. Orang yang memiliki kekayaan ini, akan lebih tenang dalam
menghadapi persoalan kehidupan karena mereka memiliki akal dan hati yang sehat,
jauh dari rasa iri dan mengeluh. Sehingga, persoalan kehidupan adalah hal yang
mudah untuk mereka lalui dengan penuh kesabaran.
Sementara kemiskinan
merupakan kekosongan hati yang tak bermakna. Kemiskinan merupakan hati yang
kusam, ibarat mawar yang telah layu. Kemiskinan akan ditandai dengan rasa iri
bahkan dengki atas ketidakcukupan rezeki. Kemiskinan diwarnai dengan
ketidaksenangan atas kelebihan yang diperoleh orang lain bahkan seseorang yang
menderita kemiskinan yang parah, akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh
kesenangan duniawi. Sering mengeluh dan tak ada rasa syukur serta tak pernah
puas terhadap apa yang ia dapatkan ialah penyakit hati yang membuat
penderitanya tak pernah lepas dari kemiskinan.